database is locked Read Book Rumah Kaca By Pramoedya Ananta Toer

Rumah Kaca by Pramoedya Ananta Toer Online

Rumah Kaca
Title : Rumah Kaca
Author :
Rating :
ISBN : 9789799731265
Language : English
Format Type : Paperback
Number of Pages : 646

Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Dan roman keempat, Rumah Kaca, memperlihatkan usaha kolonial memukul semua kegiatan kaum pergerakan dalam sebuah operasi pengarsipan yang rapi. Arsip adalah mata radar Hindia yang ditaruh di mana-mana untuk merekam apa pun yang digiatkan aktivis pergerakan itu. Pram dengan cerdas mengistilahkan politik arsip itu sebagai kegiataTetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Dan roman keempat, Rumah Kaca, memperlihatkan usaha kolonial memukul semua kegiatan kaum pergerakan dalam sebuah operasi pengarsipan yang rapi. Arsip adalah mata radar Hindia yang ditaruh di mana-mana untuk merekam apa pun yang digiatkan aktivis pergerakan itu. Pram dengan cerdas mengistilahkan politik arsip itu sebagai kegiatan pe-rumahkaca-an.Novel besar berbahasa Indonesia yang menguras energi pengarangnya untuk menampilkan embrio Indonesia dalam ragangan negeri kolonial. Sebuah karya pascakolonial paling bergengsi.


Rumah Kaca Reviews

  • Harun Harahap

    Betapa muaknya saya membaca kisah yang dituturkan oleh seorang Pribumi asli yang merasa dirinya Eropa dan lebih tinggi derajatnya daripada pribumi yang lain. Pribumi yang mempunyai kekuasaan untuk menghisap darah pribumi yang lain. Pribumi itu bernama Jacques Pangemanann, seorang pribumi asli yang diangkat anak oleh orang Perancis dan mendapatkan pendidikan Perancis.Di Novel penutup dari tetralogi Pulau buru ini, sudut pandang memang tak lagi milik Minke tapi Jacques Pangemanann. Dalam novel "Ru [...]

  • Michiyo 'jia' Fujiwara

    Selesai sudah Sudah selesai semua petualangan para manusia dan bumi-nya, atas persaudaraan dan kesamaan nasib anak semua bangsa yang tak mau lagi terbelenggu oleh kolonialisme dan keinginan untuk memerdekan diri sendiri dan untuk setiap tindakan yang mereka lakukan, akan menciptakan jejak langkah bagi generasi mereka dan generasi sesudah merekaMinkeIa pergi dalam kesepian—ia yang sudah dilupakan, dilupakan sudah dalam hidupnya. Ia seorang pemimpin yang dilupakan oleh pengikutnya. Ini hanya ter [...]

  • Sadam Faisal

    Minke :( *nangis dipojokan

  • Zaki Setiawan

    Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles(Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka Yang Terhina) (hal : 646)Karya Eyang Pram yang ini sungguh “melewati batas zaman”. Kita yang disuguhi cerita tentang Minke pada tetralogi sebelumnya ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah) kemudian diakhiri dengan pembuangan Minke ke tanah Maluku. Tahap Penangkap sampai dengan Pembuangan Minke dipimpin langsung seorang Komisaris Besar Polisi Hindia berdarah Ambon yaitu Jacques Pa [...]

  • Ahmad

    Jika karya ini danggap New york Times sebagai yang paling ambisius, saya sepakat. Pram membuktikan dirinya benar-benar patut menjadi nominee nobel sastra. Ia seolah membungkam semua fakta yang selama ini dipercaya sebagai sejarah dengan sangat apik. Dibandingkan tiga karya terdahulunya, karya ini memang lebih melelahkan. Bahkan, saya sampai berkata, "Akhirnya, selesai juga" Ia berlompatan mengulang semua cerita dari sudut pandang dan daya cerna pikir yang berbeda. Pada akhirnya, "Rumah Kaca" bag [...]

  • Anna S.

    Salut kepada Pram, bisa-bisanya dia berlagak seperti seorang Eropa dengan yakinnya, memberikan narasi mengenai intrik seputar kolonialisme dari sudut pandang orang dalam (yang telah terlanjur kupercayai walaupun belum tentu valid), sekaligus menjadi seorang Pribumi yang tak ada bandingannya dalam mengerti karakteristik bangsanya. Benar-benar dia adalah harta pusaka bangsa ini, semoga bukunya dibaca hingga ke generasi-generasi yang akan datang; mengingat hidup yang lebih terarah bila kita mengert [...]

  • Jed L

    I generally do not read about the topics books are about until after I have finished the book. And it was the same with this quartet. Only after did I read more about Toer, Indonesia, and Tirto Adhi Soerjo (the political figure whom Toer uses as a basis for his main character, Minke). Once I learned more about this man and his work in Indonesia and also saw that so much of it was the same as Minke in the novel I began to understand why Toer did not use Minke as a character in this last book. Ins [...]

  • Missy J

    *3.5So I finally finished reading the Buru Quartet. My aim was to get find out more about the history of Indonesia. And these books were helpful, together with "The History of Modern Indonesia", now I have a picture of what the Dutch Indies was like.Honestly, I didn't enjoy "House of Glass" and "Footsteps" as much as "This Earth of Mankind" and "Child of All Nation", these books really caught my attention and made me want to read more. I probably didn't like Pangemannan and the adult Minke, caus [...]

  • Karmen

    It was a bittersweet pleasure to read and now finish the Buru Quartet.Raden Mas Minke is now in exile. The House of Glass is told from the person responsible for it - policeman Tuan Pangemann. It is a great counterpart to the earlier trilogy written in Minke's voice. It presents the colonial view.Pangemann writes of his qualifications and demonstrates an excellent understanding of his culture. Unfortunately, he does not realize who he is and the damage his reports are responsible for. Even as he [...]

  • Geraldine Supit

    Setelah mengenal dekat tokoh Minke, bersahabat dengannya, mendengarkan pertumbuhan dan perkembangan jalan pikirnya, menyusuri jejak langkahnya, mendukung segala cita-citanya, dan memaafkan segala kekurangannya; kita dipaksa untuk menyaksikan sendiri kejatuhannya. Kali ini Pangemanann dengan dua n menjadi dalang atas nasib hidup Minke melalui "rumah kaca" buatannya. Ialah seorang Pribumi yang tega menghentikan hak-hak dan wibawa bangsanya sendiri hanya demi pengakuan-pengakuan atas dirinya pribad [...]

  • Yoseph Samuel

    Buku terakhir dari tetralogi pulau buru. Ditulis dengan alur yang mengejutkan dan bertolak belakang dengan 3 buku pendahulunya. Dibuku ini, Pramoedya dengan kejeniusannya mampu menuangkan dalam tulisan yang detail terkait sebuah pergolakan pikiran, watak, percakapan hati, dan imajinasi dengan sangat ambsius menjadi literatur.Pramoedya, terlepas dari sisi negatifnya (mungkin dia pada masanya, dengan segala kemanusiaannya juga sedang meraba-raba untuk menemukan "menjadi manusia utuh") tetaplah seo [...]

  • Chaniago

    Rumah Kaca sungguh membuatku tercengang. Ohh my Dia bahkan bisa mengalahkan semua novel-novel kesayanganku. It'll be my top five, for sure! Berbeda dengan buku pertama, kedua, dan ketiga, buku keempat ini mengambil sudut pandang seorang arsiparis bernama Jacques Pangemanann. Pribumi yang bekerja di Algemeene Secretarie Hindia Belanda. Ia mengabadikan semua berita mengenai sasarannya, salah satunya adalah Raden Mas Minke. Dari artikel-artikel yang dikumpulkan Pangemanann, pembaca kemudian dapat m [...]

  • Probo Darono Yakti

    Perjuangan Minke pun akhirnya telah sampai pada penghujungnya: Minke dibuang ke Maluku, atas perintah dari Gubermen sendiri. Langkah ini merupakan pengingkaran janji Pangemanann yang akan menyelesaikan Minke ini melalui jalur di luar hukum. Namun kenyataan yang ada Komisaris Polisi Hindia Belanda ini setelah memanfaatkan Robert Suurhof, kawan lama dari Minke untuk mengacaukan segala gerak-gerik Minke sekeluarga.Bagian menariknya adalah Pram mengubah sudut pandangnya menjadi orang ketiga dari ser [...]

  • Brian

    Well with this book I've now completed the Buru Quartet. That was one of my goals for this year. Now I'm wandering aimlessly through my library picking things up at random.Book four, House of Glass, was different from the first three. The point of view switched from Minke, the main protagonist to a Indies Government official, Meneer Pangemanann, spelled with two 'n's. His was a tormented soul with a unlikeable narrative voice.The quartet ended with what read like a history textbook lesson. I was [...]

  • Irwan

    Selesailah tetralogi besar ini. Pengalaman pertama berkenalan dengan sosok Pram lewat karya ini. Membuka dimensi baru baik dalam soal kepenulisan, tentang sejarah bangsaku, maupun peluang yang ada bila kedua hal itu dihubungkan. Terus terang aku tidak terlalu suka Rumah Kaca. Aku benci kepada penutur kisahnya. Bukan kepada penulisnya, karena penulisnyalah yang telah berhasil menciptakan kebencian itu. Aku juga tidak suka akhir tragis dari kisah kepahlawanan ini. Aku mengharapkan seorang sosok he [...]

  • Stella

    Set in colonial Indonesia during the Great War, this book is the last in a series named the Buru Quartet. I have not read the other books.As a standalone book it works; I'm aware the first three novels provide a back story of nationalism and self determination however the protagonist, Jacques Pangemanann is more than adequate. Talented and complex; Jacques a Medanose native studied at the Sorbonne, rose to high ranks in the police force and was appointed trusted adviser to the colonial governmen [...]

  • Mindy McAdams

    This book provides a great conclusion to the Buru Quartet -- four novels about the Indies (now Indonesia) under Dutch colonial rule at the start of the 20th century. In this, the fourth book, World War I begins, and the changes that had just started to happen in books 2 and 3 are now gaining momentum. It's hard to say too much without giving too much away but if you start to lose heart and feel sad before you reach the ending, please stay with it. I was very glad I had done so. inidisini.wordpr [...]

  • Aprilisa

    Bahasanya sastra agak susah di mengertinya bisa berulang biar pahambut, over all bukunya bagus.karena menjawab kepenasaranan saya tentang masa sebelum kemerdekaanimana pemerintahan sblm merdeka dan bagaimana perjuangan pribumi dalam memperjuangkan hak merdekanya.yangnya tokoh yang di ceritakan lebih banyak adalah kolonial, bukan pribuminyahehe.ncana selanjutnya nabung buat beli tetralogi lainnyabumi manusia, anak semua bangsa dan jejak langkah.commended book!!

  • Bianda

    I kinda like what the main character in the story does. He's an analyst which I can relate to since I'm also an analyst in my line of work (different kind of analyst though). It's a pity that he can't find peace in what he does, become obsessed in the object that he's analysing (if I may say even made him loose his mind a little bit)and eventually ended up alone. A sad ending for him, knowing that he lost everything in the end even his passion for the work he once loved.

  • - yui yunita putri

    sekarang kalian ada dalam rumah kacaku. Sluruh gerak gerik kalian terlihat!!

  • David Smith

    I thank Joss Wibisono for putting me on to this great delight.

  • Themercyw

    “Betapa bedanya bangsa-bangsa Hindia ini dari bangsa Eropa. Di sana setiap orang yang memberikan sesuatu yang baru pada umat manusia dengan sendirinya mendapatkan tempat yang selayaknya di dunia dan di dalam sejarahnya. Di Hindia, pada bangsa-bangsa Hindia, nampaknya setiap orang takut tak mendapat tempat dan berebutan untuk menguasainya.”Judul                     : Rumah Kaca, Seri ke-empat Tetralogi Pulau BuruPenulis                 : Pramoedya Ananta Toe [...]

  • Galih Khumaeni

    Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat HumilesDia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang TerhinaItulah kalimat yang menjadi penutup Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Sebuah tetralogi yang membuat saya marah-marah karena para tokoh dalam buku ini berakhir mengenaskan dan tidak mendapatkan keadilan yang pantas. Mereka hilang dalam kehinaan dan tanpa diketahui siapapun.Rasanya tepat sekali kalimat itu digunakan sebagai penutup Tetralogi Buru karena buku-buku tersebut jika [...]

  • Firmansyah Sundana

    Rumah kaca merupakan karya yang sangat fenomenal khususnya dalam konteks sastra Indonesia. Ia merupakan suatu karya yang datang dari refleksi batin yang sangat jeli dari seorang Pram. Di dalam karya ini Pram mengambil sudut pandang seorang Pangemanann. Pangemanann ini adalah orang asal Manado yang telah menempuh pendidikan di Prancis. Dididikan Prancis yang menjadikan ia seorang intelektual yang cukup lugas dalam menginterpretasikan fenomena. Akan tetapi di dalam karya ini Pram menggambarkan seo [...]

  • Gede Wahyu Prasetya

    Kita dapat segera memahami maksud Pram untuk membuat judul berupa "Rumah Kaca" begitu mulai dari adegan-adegan pertama di dalam buku ini. Begitu pula tentang adegan-adegan penutup dalam buku ini, sulit untuk tidak membayangkan pesan Karl Marx bagi para pemikir untuk mencukupkan produksi tafsir-tafsir filosofis, sekaligus untuk memulai aksi untuk mewujudkan perubahan. Buku-buku karangan Pram, termasuk buku ini, selalu lekat dengan kenyataan akan dirinya sendiri, bahwa sulit untuk mewujudkan ideal [...]

  • Cynthia

    pahit.hit ujungnya kayak minum espresso dan bikin mood jadi melo di satu sisi, di sisi lain mikir PAT bisa nulis kayak gini yaaKEREN PAKE BANGETMUA ORANG HARUS BACA.Memang sih ada waktu-waktu dimana berasa alurnya mbosenin, lambat, tapi kalo bisa bertahan kamu akan direward dengan cerita yang beautifully woven dengan karakter-karakter yang kuat.Cerita ini ngga diceritakan dari pov Minke tapi dari Pangemanann dan penggambaran pergolakan batinnya begitu terasa. Wajarlah kalo roman ini menang banya [...]

  • Putra Harahap

    tuan Pangemanann melaksanakan tugas "mengamankan" Minke. tugas ini semakin berat karena mengakibatkan pertentangan dan gejolak di jiwanya sebagai orang yang dididik dengan ketinggian pendidikan dan nilai-nilai mulia peradaban eropasan-pesan kemanusiaan disampaikan di antara konflik-konflik sentimental tuan Pangemanann.cerita mengalir sampai kepada kematian Minke yang tidak boleh diketahui oleh bangsanya sendiri, berupa nisan yang diberi ter hitam. kehidupan tuan pangemanann pun berakhir dengan t [...]

  • Ahmad Rofai

    Menggunakan sudut pandang pangemanan; seorang tenaga ahli secretarieYang pasti sedih; karena Minke harus meninggal; dalam keadaan miskin; tak punya apapun; dan semua orang lupa akanya.:"(agak kecewanapa dibuku terakhir justru kegetiran yang datang. baru sadarhkan hampir disetiap bukunya.akhir kisah selalu meninggalkan getirskipun begitu.aku merasa lebih dewasagan keindahan kata dan luar biasanya kisah.

  • Ivana

    Sebuah karya yang sarat makna dan pesan. Informasi yang diberikan Toer sangat berbobot dan relevan untuk mengetahui sejarah nasionalisme Indonesia. Akan tetapi, gaya penulisan yang terbelit-belit menjadi titik lemah karya ini, yang membuat saya memakan waktu lebih lama untuk membaca habis buku ini. Rumah Kaca juga kehilangan kesan 'cerita fiksi' di dalamnya membuatnya berasa lebih mirip buku sejarah dibandingkan ketiga seri sebelumnya.

  • Theo Karaeng

    Pertama-tama, perkenankanlah saya mengutip salah satu perkataan Yesus di atas kayu salib, sesaat sebelum Dia berserah nyawa: "sudah selesai". Ya, akhirnya selesai sudah petualanganku bersama Raden Mas Minke. Mungkin akan kubaca lagi keempat serinya di masa mendatang. Namun sekarang, biarlah kunikmati dulu rasa puas ini, merenungi romansa dan tragedi yang disuguhkan sebuah tetralogi pujaan para pecinta sastra Indonesia.